Label

Selasa, 03 Agustus 2010

DAUN DAUN MILIK KITA

Daun-daun di hamparan rerumputan
ceritakan kisah yang datang terlambat

setitik air bergoyang di helainya
membuka pejam sepiku

saat engkau melintas
dirimu memantul padanya

berkacalah, sebelum musim berganti
: meresap aku ke dalam akarmu


Susy Ayu
3 Agustus 2010

Jumat, 25 Juni 2010

Martina McBride - In My Daughter's Eyes (LIVE)

In my daughter's eyes I am a hero
I am strong and wise and I know no fear
But the truth is plain to see
She was sent to rescue me
I see who I wanna be
In my daughter's eyes

In my daughter's eyes everyone is equal
Darkness turns to light and the
world is at peace
This miracle God gave to me gives me
strength when I am weak
I find reason to believe
In my daughter's eyes

And when she wraps her hand
around my finger
Oh it puts a smile in my heart
Everything becomes a little clearer
I realize what life is all about

It's hangin' on when your heart
has had enough
It's giving more when you feel like giving up
I've seen the light
It's in my daugter's eyes

In my daughter's eyes I can see the future
A reflection of who I am and what will be
Though she'll grow and someday leave
Maybe raise a family
When I'm gone I hope you see how happy
she made me
For I'll be there
In my daughter's eyes

Richard Marx-Right here waiting for you

Richard Marx - Now And Forever (Video Version)

Kamis, 17 Juni 2010

Aku Hamil Oleh Musim

Jauh dalam dirku bersemayam sebuah belantara
dengan pohon-pohon, belukar, rerambatan
serta binatang yang belum lagi menyandang nama
di sana kutinggal

terkadang sebagai seorang petapa, yang membenci kata-kata
atau Sita di hutan Dandaka; menunggu Rahwana menculikku
atau Rama membebaskanku
atau aku adalah segumpal tanah yang menanti sebentuk kata
lalu mengutukku menjadi Manusia.

sebatang sungai mengalir dari sana
dengan air yang diperas dari langit
diperam oleh akarakar, daun-daun yang membusuk, juga guguran benih
kadang aku terperangkap dalam bongkah bebatuan
atau menetes dari pucuk-pucuk stalaktit

kubayangkan bahwa sungai itu akan mengalir ke dataran di bawah sana
menjelma bendungan, kanal, dan parit-parit.
ia akan menjadi Nil, Indus, Yang-Tze, Eufrat, Tigris..
tapi yang temukan seringkali ia hanya sebutir air di pucuk daun
atau sebentuk kolam tempat seekor katak buruk tinggal
bahkan cuma genangan di kelopak Nepenthes
tempat ku sendiri terperangkap sebagai serangga sekarat

sungguh kuingin menguasai kata-kata, mengumpulkan dan menernakkannya,
beranak pinak menjadi sekumpulan hewan yang bisa kupanen sewaktu-waktu
tapi seringkali akuah yang digembalakannya, dibanding sebaliknya

musim menghampiri ku dengan kata-kata
membuatku hamil
dan memaksaku melahirkan sajak-sajak **



Susy Ayu
14 Juni 2010

Kutorehkan ini, pada Rahim kata-kataku

Kamis, 20 Mei 2010

Rahim Kata Kata Susy Ayu

Perempuan yang menyusuri jeram demi jeram
dengan cahaya kecil yang terjaga nyalanya
menyongsong cinta dengan gairah tak berkesudahan
terbit rasa nyaman dan nyeri sekaligus seperti sebuah cinta pertama
meski disadari itu datang dari ruang tersisa tentang kepergian

dengan kelemahan dan kekuatan
ditempuhnya hantaman gelombang dari dasar tebing
yang tak pernah bisa diduga kemana terlemparkan
pun setelah mampu dilalui

perempuan yang menulis segalanya
tanpa perlu membuktikan apa apa selain kepada diri
sebab titik titik Illahiah telah singgah di dadanya
seberapapun terang dan remangnya hidup
yang dijanjikan surga dan diancam neraka

hingga rahim kata katanya mengalir
seperti Durga, juga Uma
Hawa, juga Maria Magdalena
memulai dari hal terkecil, menelusup hingga yang terdalam

pada akhirnya sebuah tulisan adalah jagad kecil tempat kehidupan dibagi
Susy Ayu menulis untuk itu ***

Susy Ayu
9 Mei 2010

TARIAN ILALANG : DINAMIS DAN KOKOH

Ulasan yang disampaikan dalam acara Launching Buku Antologi Puisi “Tarian Ilalang”
di PDS HB Jassin, Jakarta
Sabtu, 15 Mei 2010.

Oleh : Susy Ayu


Tarian Ilalang, sebuah judul buku yang menarik. Kemudian terbayang di benak tentang sekumpulan ilalang , tampak rapuh namun tegak dan oleh angin mereka bergerak sangat dinamis, teratur dan mampu bertahan dalam kekeringan. Ilalang serupa kecemasan sekaligus harapan abadi manusia.

Tarian Ilalang, adalah sebuah buku antologi puisi. Antologi secara harfiah diturunkan dari kata bahasa Yunani yang berarti "karangan bunga" atau "kumpulan bunga", adalah sebuah kumpulan dari karya-karya sastra. Sementara kata puisi, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat.

Kita bisa menyebut beberapa nama Samuel Taylor Coleridge , Wordsworth , atau Dunton yang memiliki pendapatnya masing masing tentang puisi. Demikian juga kita, setelah menciptakan puisi dengan menjalani proses prosesnya, maka menurut saya puisi adalah merupakan sublimasi gerak perasaan dan pikiran yang terekam dalam kata kata. Sublimasi yang saya maksud tentu saja semacam perenungan/pengendapan yang melahirkan bentuk baru setelah penghayatan.

Dengan kata lain puisi bisa berupa “potret kata kata” atas diri kita atau di luar itu yang berhasil ditangkap dengan mata dan rasa kemudian terolah di dalam bathin, hingga melahirkan pikiran atau gagasan gagasan tentang hal itu di dalam sebuah frame.

Tarian Ilalang, antoloi puisi oleh Adrian Kelana, Arther Panther Olii, Atan Wira Bangsa, Bagus Prana, Faris Al Farisi, Geg Neka, Ira Ginda, Joezefhine Zejoe, Lina Kelana, dan Windy Aurora.

1. Adrian Kelana, dalam pengelanaannya ia menguatkan jejaknya atas asa ( Secawan Anggur Rajahan, hal. 4) dan cinta kepada sesama ( Kemana Asap Tungku Itu, hal. 8 ) juga harapannya (Musafir Kelana, hal 10).

2. Arther Panther Olii, berhasil menggali kepedihannya hingga terasa begitu kental namun mengiris dengan sangat halus pada liris penutupnya : O, tidakkah kalian lihat telah lahir sajak paling pedih dari bening mataku? ( Dan Lahirlah Sajak Paling Pedih Dari Bening Mataku, hal. 18).

3. Safwan Nizar - Athan Wira Bangsa, menghidupkan sajak sajaknya dari perenungan yang digali antara dunia dalam bawah sadar dan dunia dalam kesadaran serta mengantar kita untuk merunduk lebih dalam atas keagungan Illahi ( Aku Mencari-Mu, hal. 26) dan (Tuhan dan Rabi, hal. 27).

4. Bagus Prana, menulis rasa kehilangan dan pencarian akan cinta kasih yang lengkap tak terbelah, menyentuh rasa kemanusiaan kita (Syair Sebuah Balada, Hal. 37) , (Terlepas Sebuah Tanya, hal. 38) dan (Janji Dermaga Biru, hal. 40).
5. Faris Al Farisi, dialog ringan kerap kita temukan pada sajak sajaknya, dan itu membentuk keunikan dalam imaji yang kental (Kremasi, hal. 45) dan (Tentang Batu 4, hal. 50) .

6. Geg Neka, sajak sajaknya kerap irit diksi namun lincah dan memiliki makna pada keseluruhan bangunan puisinya. Sajaknya sangat dinamis, enerjik ( Pikiran, hal. 57), (Gelembung, hal. 58) dan tegas dalam lembutnya ( Lembayung, hal. 61).

7. Ira Ginda, nuansa gothic begitu kental membungkus pada kebanyakan puisinya, namun ia mampu membuat imaji imaji dalam gelap itu menjadi nyata di benak kita. Nuansa Romantika Gothic; yang mengungkapkan dunia cinta secara sensual dimana bisa menghasilkan jalinan yang kuat atau kadang tragis menyembul dari imaji imajinya (Kisah Rembulan Buta, hal. 65) dan (Pelacur Di Antara Kedua Kakimu, hal. 71). Dalam nuansa kelam itu Ira juga mampu memberi imaji yang lembut di dalam kehangatan yang miris (Secawan Teh Hangat, hal. 70) , (Jawabmu Sunyi, hal. 68) dan (Pangiilan Moksa, hal. 67)

8. Joezefhine Maria - Joezefhine Zejoe, cinta adalah nafas terkuat yang hadir dalam sajak-sajaknya. Menegaskan cinta meski terabaikan, bagi kekasih, bagi sesama dan bagi orang orang yang kehilangan (Berkata Waktu Yang Akan Datang, hal.76), (Aksara Tuk Sahabat, hal.78) dan (Bocah Bocah Kolong, hal. 79).

9. Lina Kelana, dalam beberapa puisinya ia berani menggunakan diksi yang cukup tabu , hingga kita merasakan amarah mengalir dari beberapa puisinya (Arumi, hal.85), (Di Kesempuranaan Ini Tuhan Tak Lagi Bermaterai, hal. 90) . Namun juga Lina mampu mencipta imaji yang indah lewat diksi diksi santun dan lembut menyentuh (Dawai Getar Hati, hal. 88) dan (Engkau dan Selembar Kisah, hal. 91).

10. Eka Yuli Windya Astuti- Windy Aurora,
Windy mengolah tema maut dengan pilihan metafora unik, yaitu perjalanan kereta api (Pulang Naik Kereta, hal. 104). Maut merupakan tema yang menghantui puisi-puisi Windy, sebagai ujung dari perjalanan waktu yang tidak tercegah, sebagaimana yang tersirat dalam puisi Kertas (hal. 97) dan Lapuk (hal. 105).

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa semua penyair di atas mengangkat tema tema yang sama tentang cinta, sepi, kehilangan juga harapan tetapi hasilnya akan tetap berbeda sebab masing masing memiliki personalitas yang ditentukan dari daya kreatifitas mereka dimana puisi merupakan manifestasi langsung dari metabolisme mental . *

Susy Ayu
15 Mei 2010


NamBah: mohon maaf kepada sahabat Tarian Ilalang, dgn keterbatasan yg kumiliki dlm mengulas buku ini..salam sayang untuk semua..:)